Sunday, December 6, 2015





MAKALAH
AKUNTANSI PENJUALAN DAN
 AKUNTANSI UNTUK KONSINYASI PENJALAN
AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN
http://unram.ac.id/wp-content/uploads/2013/06/UNRAMWARNA.jpg

OLEH:

AFFIPUDIN                             (A0C013006)
AHMAD RIFKI HIDAYAT     (A0C013010)
DINO MARIO                         (A0C013039)
HOTIBUL UMAM                   (A0C013063)
HARIYONO                            (A0C013060)
IDA AYU WIDIASTINI A.      (A0C013070)




FAKULTAS EKONOMI UNRAM
Tahun 2015
 

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

    Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

    Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
















DAFTAR ISI
HALAMAN
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang ..............................................................................................................  1
1.2    Tujuan dan Manfaat ......................................................................................................  2

BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Penjualan Angsuran .....................................................................................  3
2.2  Metode Pengakuan Laba Kotor Pada Penjualan Angsuran ...........................................  5
2.3  Pengertian Konsinyasi ...................................................................................................  48
2.4  Karakteristik dan Keuntungan Penjualan Konsinyasi .................................................... 49
2.5  Alasan-alasan bagi pengamat untuk mengadakan perjanjian konsinyasi ......................  50
2.6  Alasan-alasan komisioner menerima perjanjian konsinyasi .......................................... 50
2.7  Hak-hak dan Kewajiban-kewajiban berhubungan
 dengan perjanjian konsinyasi ............................................................................................. 51
2.8  Akuntansi untuk Penjualan Konsinyasi .........................................................................  52

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................................  63
3.2 Saran ..............................................................................................................................  64




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman, tingkat persaingan di dunia bisnis semakin keras. Ada beberapa strategi penjualan yang dilakukan perusahaan saat ini, di antaranya adalah dengan penjualan secara konsinyasi. Penjualan secara konsinyasi banyak diminati karena saat ini kondisi perekonomian Indonesia belum membaik sepenuhnya. Perusahaan retail sering kali keberatan jika harus membeli langsung dari perusahaan, penyebabnya seperti keterbatasan modal dan resiko yang besar yang harus ditanggung jika barang yang sudah mereka beli dari perusahaan kurang laku di pasaran. Disamping itu, hal ini juga merupakan strategi perusahaan untuk menjaga keseimbangan jumlah barangnya yang ada di pasaran, yang tentunya diharapkan supaya pembeli mudah mencari produk mereka di pasaran. Kecenderungan saat ini, kebanyakan perusahaan retail lebih memilih untuk berbisnis sebagai konsinyasi. Mereka hanya menyediakan tempat dan perusahaan yang ingin bekerja sama dengan mereka akan menitipkan barangnya di konsinyasi tersebut dengan imbalan sejumlah komisi. Kemudian konsinyasi tersebut akan membayar sesuai jumlah barang yang terjual saja. Hal tersebut digunakan oleh perusahaan antara lain untuk memperluas jaringan pemasaran dan mengatasi permasalahan jumlah barang yang beredar di pasaran. Saat ini penjualan konsinyasi merupakan salah satu jenis penjualan yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan dalam kegiatannya untuk memperluas daerah pemasaran. Penjualan konsinyasi merupakan pengiriman atau penitipan barang dari pemilik kepada pihak lain yang bertindak sebagai agen penjualan. Pemilik barang disebut dengan pengamanat (konsinyor) dan pihak yang dititipkan barang disebut dengan komisioner (konsinyi) Untuk menghadapi persaingan bisnis yang ada, penerapan sistem informasi sangat dibutuhkan bagi setiap perusahaan. Dengan penerapan sistem informasi diharapkan dapat membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan. Saat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan penjualan secara konsinyasi. Perusahaan yang melakukan konsinyasi sering kali mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi mengenai penjualan konsinyasinya. Perusahaan kesulitan dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, kesulitan dalam mengetahui persediaan barang konsinyasi yang sudah terjual dan kesulitan dalam mengetahui trend penjualan di konsinyi atau wilayah tertentu. Dengan trend penjualan ini dapat banyak membantu dalam pengambilan keputusan manajemen.

1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan:
  1. Menganalisis sistem informasi penjualan konsinyasi pada perusahaan pada umumnya dan proses bisnisnya.
  2. Merancang sistem informasi penjualan konsinyasi yang terintegrasi sehingga memudahkan perusahaan (konsinyor) dalam mengolah data dari penjualan konsinyasi menjadi informasi yang dibutuhkan.
  3. Menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak manajemen dalam pengambilan keputusan, antara lain dengan merancang laporan penjualan per tahun dan laporan penjualan barang top ten.

Manfaat :
1. Mempermudah dalam pencatatan data dan informasi penjualan konsinyasi dan diharapkan dapat meningkatkan kinerja bagi perusahaan.
2. Memberikan informasi yang cepat dan akurat yaitu melalui laporan yang dihasilkan oleh sistem yang dirancang bagi pihak manajerial sehingga nantinya dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan bagi perusahaan.
3. Mempermudah mengetahui trend penjualan barang perusahaan tersebut.






BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Penjualan Angsuran
Penjualan angsuran adalah penjualan barang atau jasa yang dilaksanakan dengan perjanjian dimana pembayaran dilakukan secara bertahap atau berangsur. Biasanya pada saat barang atau jasa diserahkan kepada pembeli, penjual menerima uang muka (down payment) sebagai pembayaran pertama dan sisanya diangsur dengan beberapa kali angsuran. Karena penjualan harus menunggu beberapa periode untuk menagih seluruh piutang penjulannya, maka biasanya pihak penjual akan membebankan bunga atas saldo yang belum diterimanya.
Resiko atas tidak tertagihnya piutang usaha angsuran ini sangat tinggi, mungkin saat akan dilakukan penjualan angsuran telah dilakukan survai atas pembeli dan memperoleh hasil yang baik. Karena penagihan piutang usaha angsuran memakan waktu yang cukup lama (beberapa periode), hal tersebut kemungkinan dapat merubah hasil survai yang telah dilakukan semula terhadap pembeli. Untuk menghindari hal-hal demikian, penjual biasanya akan membuat kontrak jual beli (security agreement), yang memberikan hak kepada penjual untuk menarik kembali barang yang telah di jual dari pembeli.
Untuk mengurangi barang angsuran tersebut dari resiko terbakar atau hilang, pihak penjual dapat menetapkan syarat bagi pembeli agar barang angsuran tersebut diasuransikan untuk kepentingkan pihak penjual. Premi asuransi ditanggung oleh pembeli, jika barang angsuran hilang atau terbakar, pihak asuransi akan membayar ganti rugi kepada penjual dan bukan pembeli. Kadang kala mungkin jiwa dari pembeli diwajibkan oleh penjual untuk diasuransikan dengan premi auransi atas tanggungan si pembeli.
Jadi untuk melindungi kepentingan penjual dari kemungkinan tidak ditepatinya kewajiban-kewajiban oleh pihak pembeli, maka terdapat beberapa bentuk perjanjian atau kontrak penjualan angsuran, sebagai berikut :
  1. Perjanjian penjualan bersyarat (conditional sales contract), di mana barang-barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang-barang masih berada di tangan penjual sampai seluruh pembayarannya sudah lunas.
  2. Pada saat perjanjian ditandatangani dan pembayaran pertama telah dilakukan, hak milik dapat diserahkan kapada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotikan untuk bagian harga penjualan yang belum dibayar kapada si penjual.
  3. Hak milik atas barang-barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan “trust” (trustee) sampai pembayaran harga penjualan dilunasi. Setelah pembayaran lunas oleh pembeli, baru trustee menyerahkan hak atas barang-barang itu kepada pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akta kepercayaan (trust deed / trust indenture).
  4. Beli sewa (lease-purchase) dimana barang-barang yang telah diserahkan kepada pembeli. Pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas, baru sesudah itu hak milik berpidah kepada pembeli.
Penjualan angsuran dengan bentuk-bentuk perjanjian tersebut di atas dilaksanakan untuk barang-barang tidak bergerak / barang yang bukan barang dagang, seperti : gedung, tanah, dan aktiva-aktiva tetap lainnya. Apabila terjadi tidak dipenuhinya kewajiban-kewajiban oleh pembeli, maka penjual tetap memiliki hak untuk memiliki kembali barang yang dijualnya, tetapi nilainya sisa barang itu mungkin akan lebih rendah dari nilai barang berdasarkan perhitungan yang sesuai dengan perjanjian yang ada sehingga pemilikan kembali tersebut dapat menimbulkan kerugian.
Untuk mengurangi kemungkinan kerugian yang terjadi pemilikan kembali, maka faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh penjual adalah sebagai berikut :
  1. Besarnya pembayaran pertama atau down payment harus cukup untuk menutup besarnya semua kemungkinan terjadinya penurunan harga barang tersebut dari semula barang baru menjadi barang bekas.
  2. Jangka waktu pembayaran di antara angsuran yang satu dengan yang lain hendaknya tidak terlalu lama, kalau dapat tidak lebih dari satu bulan.
  3. Besarnya pembayaran angsuran periodik harus diperhitungkan cukup untuk menutup kemungkinan penurunan nilai barang-barang yang ada selama jangka pembayaran yang satu dengan pembayaran angsuran berikutnya.

2.2  Metode Pengakuan Laba Kotor Pada Penjualan Angsuran
Untuk menghitung laba bersih pada penjualan angsuran adalah sangat kompleks, karena beban sehubungan dengan penjualan angsuran tersebut tidak hanya terjadi pada saat penjualan angsuran             tersebut dilakukan, melainkan akan terjadi sepanjang penjualan angsuran tersebut belum dilunasi.
Sesuai dengan konsep akuntasni yaitu membandingkan antara beban dengan pendapatan (matching costs against revenue), maka pada saat penjualan angsuran dapat ditentukan nilai dari penjualan, harga pokok dan beban yang terjadi pada periode tersebut. Karena penagihan penjualan angsuran meliputi beberapa periode, timbul masalah bagaimana beban yang terjadi pada periode berikutnya (misalkan beban penagihan, administrasi, perbaikan dan pemilikan kembali) sehubungan penagihan piutang usaha angsuran tersebut.
Untuk menghitung laba kotor dalam penjualan angsuran pada prakteknya dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu :
  1. Pengakuan Laba Kotor pada saat terjadinya penjualan angsuran.
  2. Pengakuan Laba Kotor sejalan dengan realisasi penerimaan kas.
  1. Pengakuan Laba Kotor pada saat terjadinya penjualan angsuran
Dalam metode ini seluruh laba kotor diakui pada saat terjadinya penjualan angsuran, atau dengan kata lain sama seperti penjualan pada umumnya yang ditandai oleh timbulnya piutang/tagihan kepada pelanggan. Apabila prosedur demikian diikuti maka sebagai konsekuensinya pengakuan terhadap biaya-biaya yang berhubungan dam dapat diidentifikasikan dengan pendapatan-pendapatan yang bersangkutan harus pula dilakukan.
Beban untuk pendapatan dalam periode yang bersangkutan harus meliputi biaya-biaya yang diperkirakan akan terjadi dalam hubungannya dengan pengumpulan piutang atas kontrak penjualan angsuran, kemungkinan tidak dapatnya piutang itu direalisasikan maupun kemungkinan rugi sebagai akibat pembatalan kontrak. Terhadap biaya yang ditaksir itu biasanya dibentuk suatu rekening Cadangan Kerugian Piutang.
Jika barang tidak bergerak dijual secara angsuran, perusahaan akan mendebit piutang usaha angsuran dan mengkredit perkiraan aktiva yang bersangkutan serta mengkredit pula laba atas penjualan aktiva tersebut.
Jurnalnya adalah:
Piutang usaha angsuran                                                                       xxxxxx
Aktiva tak gerak                                                                                 xxxxxx
Laba atas penjualan aktiva tak gerak                                                  xxxxxx

Pada metode ini memakai asumsi bahwa seluruh beban sehubungan dengan penjualan angsuran terjadi pada periode yang sama dengan penjualannya. Mengenai beban pada periode berikutnya, yaitu misalnya beban tidak tertagihnya piutang dan lain sebagainya, harus diestimasi pada periode terjadinya penjualan nagsuran yaitu dengan mendebit perkiraan beban dan mengkredit perkiraan penilaian asset seperti penyisihan biaya penjualan angsuran dan penyisihan piutang angsuran.
     Jurnalnya adalah:
Beban usaha                                                                            xxxxxx
Penyisihan piutang angsuran                                                               xxxxxx

Jika pada periode berikutnya penjualan nagsuran tersebut terjadi, perkiraan penyisihan tersebut   akan didebit, dan kas yang dikeluarkan serta saldo piutang usaha yang tidak tertagih akan dikredit.
Jurnalnya adalah:
Penyisihan piutang angsuran                                                   xxxxxx
Kas                                                                                                      xxxxxx
Piutang usaha angsuran                                                                       xxxxxx

  1. Laba kotor diakui sejalan dengan realisasi penerimaan kas
Dalam metode ini laba kotor diakui sesuai dengan realisasi penerimaan kas dari penjualan
angsuran yang diterima pada periode akuntansi yang bersangkutan.
Prosedur yang menghubungkan tingkat keuntungan dengan realisasi penerimaan angsuran pada perjanjian penjualan angsuran adalah:
  1. Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai pengembalian harga pokok (Cost) dari barang-barang yang dijual atau service yang diserahkan, sesudah seluruh harga pokok (Cost) kembali, maka penerimaan-penerimaan selanjutnya baru dicatat sebagai keuntungan. Prosedur ini dianggap sangat konservatif. Dapat didukung jika timbul keraguan mengenai nilai yang dapat diperoleh kembali, baik yang berkaitan dengan saldo atau sisa kontrak cicilan maupun yang berkaitan dengan barang-barang yang terkena pemilikan kembali.
  2. Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai realisasi keuntungan yang diperoleh sesuai dengan kontrak penjualan; sesudah seluruh keuntungan yang ada terpenuhi, maka penerimaan-penerimaan selanjutnya dicatat sebagai pengumpulan kembali atau pengembalian harga pokok (Cost).
  3. Setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik sebagai pengembalian harga pokok (Cost) maupun sebagai realisasi keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok dan keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditandatangani. Di dalam hal ini keuntungan akan selalu sejalan dengan tingkat pembayaran angsuran selama jangka perjanjian.
Metode ini memberikan kemungkinan untuk mengakui, keuntungan prosporsional dengan tingkat penerimaan pembayaran angsuran. Di dalam akuntansi prosedur demikian dikenal dengan metode angsuran atau dasar angsuran (installment method or installment basis).
Pada metode ini jika harta tak gerak (bukan barang dagang) dijual secara angsuran, perusahaan akan mendebit perkiraan piutang usaha angsuran dan mengkredit harta yang bersangkutan serta mengkredit laba kotor yang ditangguhkan (yang belum direalisasi).
Jurnalnya adalah:
Piutang usaha angsuran                                                                      xxxxxx
Aktiva Tetap                                                                                      xxxxxx
Laba kotor yang ditangguhkan (yang belum direalisasi)                    xxxxxx
Mengenai penagihan piutang usaha angsuran tersebut akan dicatat dengan mendebit perkiraan kas dan mengkredit perkiraan piutang usaha
Jurnalnya adalah:
Kas                                                                                                      xxxxxx
Piutang usaha angsuran                                                                       xxxxxx
Selanjutnya pada akhir periode, saat dilakukan jurnal penyesuaian akan dicatat sbb:
Jurnalnya adalah:
Laba kotor yang belum direalisasi                                                      xxxxxx
Laba kotor yang direalisasi                                                                 xxxxxx
Laba kotor yang belum direalisasi adalah selisih antara penjualan angsuran dengan hargapokoknya. Laba kotor yang berlum direalisasi akan direalisasi pada saat penerimaan piutang usaha angsuran yaitu dengan mengalikan presentase laba kotor dengan kas yang diterima dari piutang usaha angsuran tersebut.
Untuk menghitung presentase laba kotor yaitu dengan membagi laba kotor yang belum dieralisasi dengan penjualan angsuran yang bersangkutan dan hasilnya dikalikan 100%.
Laba kotor ditangguhkan = Penjualan – HPP (Harga Pokok Penjualan)
% Laba kotor = (Laba kotor yang belum direalisasi : Penjualan angsuran) x 100%
Contoh soal:
  1. PT Orascle telah membeli sebuah tanah di daerah Jakarta dengan harga perolehan Rp. 170.000.000,00. di samping itu PT Orascle juga membayar biaya-biaya lainnya seharga Rp. 10.000.000,00
Pada tanggal 1 mei 2000, PT Hadouken membeli tanah tersebut seharga Rp. 240.000.000,00. PT Hadouken membayar uang muka sebesar Rp. 40.000.000,00 dan sisanya akan dibayar angsuran sebanyak 10 kali setengah tahunan, setiap kali angsuran Rp. 20.000.000,00. PT Orascle mengenakan bunga 18% pertahun terhadap sisa angsuran. Komisi dan beban penjualan dibayar tunai sebesar 2% dari harga jual. Periode akuntansi perusahaan sama dengan tahun fiskal.
Diminta : Catatlah transaksi-transasksi tersebut ke dalam jurnal untuk tahun 2000 dan 2001, dengan menggunakan
  1. Laba kotor diakui pada saat penjualan
  2. Laba kotor diakui sejalan dengan realisasi penerimaan kas

Jawaban:
  1. Laba kotor diakui pada saat penjualan
1 mei 2000
  • Penjualan tanah dengan harga jual Rp. 240.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                 Rp. 240.000.000,00
Tanah                                                                                     Rp. 180.000.000,00
Laba atas penjualan tanah                                                    Rp. 60.000.000,00

  • Penerimaan uang muka
Kas                                                             Rp. 40.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                         Rp. 40.000.000,00

  • Dibayar komisi dan beban penjualan (2% x Rp. 240.000.000,00)
Beban komisi dan penjualan                       Rp. 4.800.000,00
Kas                                                                                        Rp. 4.800.000,00

1 november 2000
  • Dibayar angsuran pertama dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 200.00.000,00)
Kas                                                             Rp. 38.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                         Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                 Rp. 18.000.000,00

31 desember 2000
  • Jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x Rp. 180.000.000)
Piutang Bunga                                            Rp. 5.400.000,00
Pendapatan bunga                                                                Rp. 5.400.000,00

  • Realisasi Laba kotor
Tidak ada jurnal

  • Ayat jurnal penutup
Laba atas penjualan tanah                          Rp. 60.000.000,00
Pendapatan bunga                                      Rp. 23.400.000,00
Beban komisi dan penjualan                                                  Rp. 4.800.000,00
Ikhtisar Rugi/Laba                                                                Rp. 78.600.000,00

1 januari 2001
  • Ayat jurnal pembalik
Pendapatan bunga                                      Rp. 5.400.000,00
Piutang bunga                                                                        Rp. 5.400.000,00

1 mei 2001
  • Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 180.000.000,00)
Kas                                                             Rp. 36.200.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 16.200.000,00

1 november 2001
  • Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 160.000.000,00)
Kas                                                             Rp. 34.400.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 14.400.000,00

31 desember 2001
  • Ayat jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x 140.000.000,00)
Piutang bunga                                             Rp. 4.200.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 4.200.000,00

  • Realisasi laba kotor
Tidak ada jurnal
  • Ayat jurnal penutup
Pendapatan bunga                                      Rp. 29.400.000,00
Ikhtisar rugi laba                                                                     Rp. 29.400.000,00
  1. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas
1 mei 2000
  • Penjualan tanah seharga Rp. 240.000.000,00
Piutang usaha angsuran                              Rp. 240.000.000,00
Tanah                                                                                      Rp. 180.000.000,00
Laba kotor yang belum direalisasi                                          Rp. 60.000.000,00

  • Penerimaan uang muka
Kas                                                             Rp. 40.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 40.000.000,00

  • Dibayar komisi dan beban penjualan (2% x Rp. 240.000.000,00)
Beban komisi dan penjualan                       Rp. 4.800.000,00
Kas                                                                                          Rp. 4.800.000,00

1 november 2000
  • Dibayar angsuran pertama dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 200.000.000,00)
Kas                                                             Rp. 38.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 18.000.000,00



31 desember 2000
  • Jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x Rp.180.000.000,00)
Piutang bunga                                             Rp. 5.400.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 5.400.000,00


  • Realisasi Laba kotor
Laba kotor yang belum direalisasi              Rp. 15.000.000,00
Realisasi laba kotor                                                                 Rp. 15.000.000,00

  • Ayat jurnal penutup
Realisasi laba kotor                                     Rp. 15.000.000,00
Pendapatan bunga                                      Rp. 23.400.000,00
Beban komisi dan penjualan                                                   Rp. 4.800.000,00
Ikhtisar rugi/laba                                                                     Rp. 33.600.000,00

1 januari 2001
  • Ayat jurnal pembalik
Pendapatan bunga                                      Rp. 5.400.000,00
Piutang bunga                                                                         Rp. 5.400.000,00




1 mei 2001
  • Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 180.000.000,00)
Kas                                                             Rp. 36.200.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 16.200.000,00

1 november 2001
  • Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 18% x Rp. 160.000.000,00)
Kas                                                             Rp. 34.400.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                  Rp. 14.400.000,00

31 desember 2001
  • Ayat jurnal penyesuaian bunga (2/12 x 18% x Rp. 140.000.000,00)
Piutang bunga                                             Rp. 4.200.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 4.200.000,00

  • Realisasi laba kotor (10% x Rp.40.000.000,00)
Laba kotor yang belum direalisasi              Rp. 10.000.000,00
Realisasi laba kotor                                                                 Rp. 10.000.000,00

  • Ayat jurnal penutup
Realisasi laba kotor                                     Rp. 10.000.000,00
Pendapatan bunga                                      Rp. 29.400.000,00
Iktisar rugi/laba                                                                       Rp. 39.400.000,00
           
Pada penjualan angsuran dengan metode pengakuan laba kotor pada saat penjualan terjadi, akan diakui laba kotor sebesar Rp. 60.000.000,00 pada tahun 2000, yaitu pada saat penjualan terjadi (jurnal tanggal 1 mei 2000).
Sedangkan pada metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas juga akan mengakui laba kotor sebesar Rp. 60.000.000,00 pula. Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tahun
Penerimaan angsuran
Presentase laba kotor
Pengakuan laba kotor
2000
Rp. 60.000.000,00
25%
Rp. 15.000.000,00
2001
Rp. 40.000.000,00
25%
Rp. 10.000.000,00
2002
Rp. 40.000.000,00
25%
Rp. 10.000.000,00
2003
Rp. 40.000.000,00
25%
Rp. 10.000.000,00
2004
Rp. 40.000.000,00
25%
Rp. 10.000.000,00
2005
Rp. 20.000.000,00
25%
Rp. 5.000.000,00
Apabila kewajiban tidak dapat dipenuhi oleh pihak pembeli, maka pihak penjual akan menarik kembali harta yang telah dijual. Pencatatan atas penarikan kembali harta tersebut tergantung dari metode pengakuan laba kotor yang digunakan. Jika laba kotor laba kotor diakui pada saat penjualan terjadi, maka harta yang dimiliki tersebut diakui sebesar harga pasar yang wajar, kemudian membatalkan saldo piutang usaha nagsuran dan menimbulkan laba atau rugi karena pemilikan kembali. Jika menggunakan metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas, maka harta yang dimiliki tersebut diakui sebesar harga pasar yang wajar, kemudian membatalkan laba kotor yang belum direalisasi serta saldo piutang usaha angsuran dan menimbulkan laba atau rugi karena pemilikan kembali. Contoh kasus ketidakmampuan pelunasan piutang usaha angsuran adalah:

  1. Mengacu pada soal no 1 bila pada tanggal 1 mei 2002, PT. Hadouken tidak dapat membayar (memenuhi) kewajibannya. PT Orascle kemudian menarik hartanya kembali dan pada tanggal tersebut tanah itu dinilai menurut harga pasarnya yaitu sebesar Rp. 150.000.000,00.
  2. Hadouken menerima 5% dari jumlah yang telah dibayarnya tetapi tidak termasuk bunga.
Diminta: Buatlah perhitungan rugi/laba dan jurnal pemilikan kembali untuk
  1. Laba kotor diakui pada saat penjualan
  2. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas
Jawaban:
  1. Laba kotor diakui pada saat penjualan
Jumlah piutang yang diterima                                                       Rp. 100.000.000,00
Jumlah yang dikembalikan kepada PT Hadouken (10%)             Rp.     5.000.000,00
Rp. 95.000.000,00
Harga pokok tanah           Rp. 180.000.000,00
Nilai pasar                         Rp. 150.000.000,00
Penurunan nilai tanah                                                                    Rp. 30.000.000,00
Total laba pemilikan kembali                                                        Rp. 65.000.000,00
Laba kotor yang telah diakui                                                        Rp. 60.000.000,00
Laba (rugi) pemilikan kembali                                                      Rp. 5.000.000,00

  • Jurnal pemilikan kembali
Tanah                                                                    Rp. 150.000.000,00
Kas                                                                                    Rp. 5.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                     Rp. 140.000.000,00
Laba atas pemilikan kembali                                             Rp. 5.000.000,00

  1. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas
Jumlah piutang yang diterima                                                                   Rp. 100.000.000,00
Jumlah yang dikembalikan (5%)                                                               Rp. 5.000.000,00
Rp. 95.000.000,00
Harga pokok tanah            Rp. 180.000.000,00
Nilai pasar                         Rp. 150.000.000,00
Penurunan nilai tanah                                                                                Rp. 30.000.000,00
Total laba pemilikan kembali                                                                    Rp. 65.000.000,00
Laba kotor yang telah diakui                                                                    Rp. 25.000.000,00
Laba (Rugi) karena pemilikan kembali                                                     Rp. 40.000.000,00

  • Jurnal pemilikan kembali
Tanah                                                              Rp. 150.000.000,00
Laba kotor yang belum direalisasi                  Rp. 35.000.000,00
Kas                                                                                          Rp. 5.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 140.000.000,00
Laba atas pemilikan kembali                                                   Rp. 40.000.000,00
Untuk kedua metode di atas masih diperlukan sebuah jurnal lagi, yaitu jurnal untuk menutup piutang bunga, pada akhir tahun 2001 sebesar Rp. 4.200.000,00 sebagai kerugian.
Ayat jurnal pembalik
1 januari 2000
Pendapatan bunga                                           Rp. 4.200.000,00
Piutang bunga                                                                        Rp. 4.200.000,00
  • Ayat jurnal penutup
Laba yang ditahan                                          Rp. 4.200.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 4.200.000,00

  1. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PADA PENJUALAN ANGSURAN
    1. Neraca
Penyusunan neraca pada perusahan yang melakukan penjualan nagsuran sama dengan penjualan biasa, hanya terdapat hal yang harus dieprhatikan adalah:
  1. Piutang usaha angsuran biasanya dikelompokkan sebaagi aktiva lancar dan harus dijelaskan pada penjelasan laporan keuangan atau dengan catatan kaki yang mengungkapkan tanggal jatuh temponya. Hal ini dengan asumsi bahwa definisi dari aktiva lancar adalah sumber-sumber yang diharapkan dapat direalisir menjadi kas atau dijual. Maka jangka waktu piutang usaha angsuran tersebut diabaikan.
  2. Laba kotor yang belum direalisasikan dapat dikelompokkan:
    • Kelompok kewajiban atau pendapatan yang belum direalisasi.
    • Pengurang piutang usaha angsuran.
    • Kelompok modal yang menjadi bagian dari laba yang ditahan
Cara yang paling umum adalah laba kotor yang belum direalisasi dicatat sebagai kelompok kewajiban.
  1. Laporan Rugi/Laba dan Daftar analisa realisasi laba kotor
Di dalam penyusunan perhitungan rugi/laba untuk penjualan angsuran, harus dipisahkan antara penjualan biasa dengan angsuran. Laba kotor penjualan angsuran periode tersebut dikurangi dengan saldo laba kotor yang belum direalisasi pada akhir periode, yang menghasilkan laba kotor periode tersebut yang telah direalisasi.

A.    PENGAKUAN LABA PENJUALAN ANGSURAN DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN
    1. Undang-undang Perpajakan No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
Menurut salah satu metode penjualan angsuran bahwa laba kotor diakui sejalan dengan tagihan uang kas yang diterima, sehingga laba kotor akan diakui untuk beberapa periode fiskal. Sedangkan menurut pajak penghasilan sesuai dengan undang-undang no.7 bahwa laba hasrus diakui pada saat penjualan dilakukan. Sehingga terdapat perbedaan persepsi antara laba menurut metode penjualan angsuran dengan undang-undang pajak penghasilan.
Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia pasal 9 tentang pajak penghasilan, yaitu:
  • Dalam Perhitungan rugi/laba, jumlah pajak penghasilan dapat dihitung berdasarkan laba menurut akuntansi atau laba kena pajak, dengan tarif sebagaimana ditetapkan oleh fiskus.
  • Dalam hal pajak penghasilan dihitung menurut laba akuntansi, selisih perhitungan tersebut dengan hutang pajak (yang dihitung menurut laba kena pajak), yang disebabkan “perbedaan waktu” pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan akuntansi dengan tujuan pajak akan ditampung ke dalam pos “pajak penghasilan yang ditangguhkan” dan dialokasikan pada beban pajak pengahsilan tahun-tahun berikutnya. Sehingga dengan demikian jika perusahaan menghitung laba menurut metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas hasil penjualan angsuran, maka selisih antara pajak penghasilan perusahaan dengan pajak pengahsilan menurut fiskus ditampung dalam perkiraan pajak penghasilan yang ditangguhkan (belum direlisasi).
Contoh soal:
  1. Bila PT Hadouken mendapatkan laba untuk tahun 1999 sebesar Rp. 10.250.000,00. Sedangkan menurut undang-undang pajak penghasilannya adalah Rp. 9.500.000,00. Buatlah jurnal untuk menyesuaikannya!
Pajak pengahsilan menurut perusahaan                                         Rp. 10.250.000,00
Pajak pengahsilan menurut UU pajak penghasilan                       Rp. 9.500.000,00
Selisih                                                                                            Rp. 750.000,00
  • Jurnal untuk mencatat pembebanan pajak tersebut
Ikhtisar rugi/laba                                                  Rp. 10.250.000,00
Hutang pajak (PPh pasal 29)                                       Rp. 9.500.000,00
Pajak penghasilan yang ditangguhkan                        Rp. 750.000,00
Jika perusahaan menggunakan metode pengakuan laba kotor pada saat penjualan angsuran, maka tidak terdapat perbedaan antara laba menurut perusahaan dengan laba menurut pajak.
  • Undang-undang perpajakan No.8 tahun 1983 tentang pajak pertambahan nilai dan pajak
penjualan atas barang mewah
Untuk perusahaan dagang umumnya dan perusahaan dagang angsuran harus ditetapkan apakah perusahaan tersebut adalah pengusaha kena pajak (PKP) atau non PKP.
Bila perusahaan tersebut adalah PKP, maka untuk seluruh penjualan barang dagangnya harus dikenakan PPN. Dan bila merupakan non PKP maka tidak boleh dipungut PPN. PPN yang dikenakan atas nilai jual ini disebut sebagai PPN keluaran. Sedangkan PPN atas barang yang dibeli merupakan PPN masukkan. PPN masukkan dapat dikreditkan dengan PPN keluaran.
Selain itu perusahaan juga membayar pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), bila barang yang dibeli merupakan kategori barang mewah. Tarif ini berkisar anatar 10% – 30%. PPnBM ini dikenakan hanya sekali pada pengusaha dan tidak daoat dikreditkan dengan PPN keluarannya sehingga harus dimasukkan sebagai harga pokok barang yang dibelinya.



  1. BUNGA PADA PENJUALAN ANGSURAN
Dalam penjualan angsuran pihak penjual biasanya juga memperhitungkan bunga atas saldo angsuran yang belum dibayar disamping memperhitungkan laba.
Bunga dalam penjualan angsuran harus dipisahkan dari pengakuan laba kotor dari hasil usaha bagi pihak penjual, sedangkan untuk pihak pembeli unsur bunga harus dipisahkan dari harga perolehan dari barang angsuran yang dimilikinya.
Dalam menghitung bunga, dapat dilakukan denagn beberapa cara, yaitu:
  • Bunga dihitung dari saldo pokok pinjaman yang belum dilunasi selama jangka waktu angsuran (bunga dihitung dari saldo menurun), disebut Long End Interest.
  • Bunga dihitung dari akumulasi pembayaran angsuran yang telah jatuh tempo (tidak termasuk uang muka) yang dihitung sejak pembayaran angsuran pertama sampai dengan paling akhir, disebut Short End Interest.
  • Bunga dihitung secara anuitet. Setiap periode sama besarnya dan di dalam setiap pembayaran angsuran mengandung unsure pelunasan angsuran dan bunga.
  • Bunga selama masa pembayran angsuran diitung dari harga kontrak awal setelah diperhitungkan dnegan uang muka.


Contoh Soal:
PT Hadouken menjual peralatannya secara angsuran. Pada tanggal 1 februari 1998, dijual peralatan secara angsuran dengan harga jual sebesar Rp. 10.000.000,00. Pembeli membayar uang muka sebesar Rp. 1.000.000,00 dan sisanya dibayar secara angsuran sebanyak 10 kali bulanan dengan bunga sebesar 12% pertahun. Harga pokok perlatan adalah Rp. 8.000.000,00. Buat perhitungan bunga dan jurnal yang diperlukan untuk 3 bulan pertama !
Jawaban:
  1. Bunga dihitung dari saldo pokok pinjaman yang belum dilunasi selama jangka waktu angsuran.
Pada cara ini bunga yang dibebankan pada setiap kali angsuran dihitung dari saldo pokok pinjaman awal periode tersebut. Bunga yang dibayar setiap periode akan makin lama makin kecil, sesuai dengan makin kecilnya saldo pinjaman penjualan angsuran tersebut.
Perhitungan bunga dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tanggal           Saldo pokok                Angsuran                Bunga 1%           Jumlah yang
Pinjaman                                             per bulan              harus dibayar
1’2’1998         10.000.000                       —                           —                             —
1’2’1998         9.000.000                   1.000.000                    —                      1.000.000
1’3’1998         8.100.000                      900.000                  90.000                   990.000
1’4’1998         7.200.000                      900.000                  81.000                   981.000
1’5’1998         6.300.000                      900.000                  72.000                   972.000
1’6’1998         5.400.000                      900.000                  63.000                   963.000
1’7’1998         4.500.000                      900.000                  54.000                   954.000
1’8’1998          3.600.000                     900.000                 45.000                   945.000
1’9’1998          2.700.000                     900.000                  36.000                   936.000
1’10’1998        1.800.000                     900.000                  27.000                   927.000
1’11’1998             900.000                   900.000                  18.000                   918.000
1’12’1998               —                          900.000                    9.000                   909.000
Jumlah                    —                      10.000.000                495.000                       —
Jurnal transaksi:
Tanggal                                      Buku penjual                                          Buku pembeli
1’2’1998                                             Kas                                                     1.000.000 
                                                        Peralatan                                               10.000.000
      Piutang usaha angsuran                                        9.000.000            
                                                            Kas                                                     1.000.000
           Penjualan angsuran                                        10.000.000  
                                                Hutang angsuran                                             9.000.000
1’3’1998                                             Kas                                                        990.000        
                                                  Hutang angsuran                                              900.000
                                            Piutang usaha angsuran                                          900.000 
                                                      Beban bunga                                                   90.000       
                                                  Pendapatan bunga                                               90.000
                                                             Kas                                                         990.000                  
1’4’1998                                             Kas                                                       981.000           
                                                   Hutang angsuran                                            900.000
Piutang usaha angsuran                                    900.000  
                                                       Beban bunga                                               81.000
   Pendapatan bunga                                            81.000   
                                                            Kas                              981.000
  1. Bunga dihitung dari akumualsi pembayaran angsuran yang telah jatuh tempo (tidak
termasuk uang muka)
Cara ini menghitung bunga dari akumulasi pembayaran angsuran yang telah jatuh tempo. Dengan demikian bunga yang dibebankan makin lama makin besar, seiirng dengan makin membesarnya akumulasi pembayaran angsuran tiap periode.
Pembayaran bunga dengan metode ini tidak sesuai dengan system bunga accrual. Pada sitem tersebut, bunga dihitung dari saldo pinjaman yang belum dilunasi dan bukan dari akumualsi angsuran yang jatuh tempo. Oleh karena itu jika perusahaan membuat laporan keuangan tiap akhir periode, maka harus dilakukan penyesuaian atas bunga menurut system accrual.

Perhitungan bunga dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tanggal           Saldo pokok                Angsuran                Bunga 1%           Jumlah yang
Pinjaman                                              per bulan             harus dibayar
1’2’1998            10.000.000                       —                              —                             —
1’2’1998              9.000.000                   1.000.000                      —                      1.000.000
1’3’1998              8.100.000                      900.000                    9.000                      909.000
1’4’1998              7.200.000                      900.000                  18.000                      918.000
1’5’1998              6.300.000                 900.000                  27.000                   927.000
1’6’1998             5.400.000                  900.000                  36.000                   936.000
1’7’1998             4.500.000                   900.000                  45.000                   945.000
1’8’1998              3.600.000                  900.000                 54.000                   954.000
1’9’1998              2.700.000                  900.000                  63.000                   963.000
1’10’1998            1.800.000                  900.000                  72.000                   972.000
1’11’1998               900.000                  900.000                  81.000                   981.000
1’12’1998                —                           900.000                  90.000                   990.000
Jumlah                     —                       10.000.000                495.000                       —

Jurnal transaksi:
Tanggal                                       Buku Penjual                                            Buku Pembeli
1’2’1998                                             Kas                                                         1.000.000
                                                         Peralatan                                                   10.000.000  
                                               Piutang usaha angsuran                                        9.000.000           
  Kas                                                         1.000.000
  Penjualan angsuran                                          10.000.000  
                                                    Hutang angsuran                                              9.000.000
1’3’1998                                       Piutang bunga                                                       9.000    
                                                       Beban bunga                                                        9.000
   Pendapatan bunga                                                    9.000      
                                                      Hutang bunga                                                        9.000
   Kas                                                            909.000          
 Hutang angsuran                                                     900.000
   Piutang bunga                                                           9.000  
    Hutang bunga                                                           9.000
        Piutang usaha angsuran                                               900.000    
                                                            Kas                                                               909.000
1’4’1998                                  Piutang bunga                                                         18.000   
                                                   Beban bunga                                                          18.000
Pendapatan bunga                                                     18.000
   Hutang bunga                                                          18.000
Kas                                                               918.000
Hutang angsuran                                                      900.000
   Piutang bunga                                                                     18.000
   Hutang bunga                                                          18.000
       Piutang usaha angsuran                                                9000.00
Kas                                                               918.000

  1. Bunga dihitung secara anuitet
Pada cara ini pembayaran setiap periodenya sama besarnya, dan setiap pembayran tersebut meliputi pembayran pokok pinjaman dan pembayran bunga. Pembayaran dengan cara ini disebut sebagai pembayaran anuitet. Untuk mencari jumlah pembayran anuitet setiap periode digunakan rumus:
T     =   Jumlah angsuran yang belum lunas
T = Ann   1- 1/(1 + i )n                            
 Ann = Pembayaran angsuran setiap periode                           
  n     = Jumlah periode angsuran;
 i = Bunga per periode
Dalam contoh diatas maka pembayaran anuitet dapat dicari sebagai berikut :
Rp. 9.000.000 = Ann   1- 1/(1+1%)10  
Rp. 9.000.000 = Ann x 9,4713045
Ann = 950.238, 692

  1. Bunga selama masa pembayaran angsuran dihitung dari harga kontrak awal setelah diperhitungkan dengan uang muka.
Pada cara ini bunga untuk setiap periode dihitung dari saldo awal pokok pinjaman setelah dikurangi dengan uang muka. Sehingga dengan demikian buinga yang dibebankan untuk setiap periode sama besarnya dan jumlah angsuran ditambah bunga periode terebut akan menghasilkan jumlah yang sama besar pula.
Contoh terkait diatas:
Bunga untuk setiap periode     = 1% x Rp. 9.000.000,00 = Rp. 90.000,00
Angsuran untuk setiap periode = Rp. 900.000 + Rp. 90.000,00 = Rp. 990.000,00





Tabel perhitungan bunga
Bunga dihitung              Pembayaran                         Total                         Saldo
Tanggal                      dari saldo pokok           pokok pinjaman           pembayaran              pokok
pinjaman                                                                                    pinjaman

1’2’1998                  —                                  —                               —                   10.000.000
1’2’1998                  —                            1.000.000                1.000.000             9.000.000
1’3’1998              90.000                           900.000                     990.000             8.010.000                                   1’4’1998              90.000                           900.000                     990.000             7.020.000
1’5’1998              90.000                           900.000                     990.000             6.030.000
1’6’1998              90.000                           900.000                     990.000             5.040.000                                    1’7’1998              90.000                           900.000                     990.000             4.050.000                                1’8’1998              90.000                           900.000                     990.000             3.060.000
1’9’1998              90.000                           900.000                     990.000             2.070.000
1’10’1998             90.000                           900.000                     990.000             1.080.000
1’11’1998             90.000                           900.000                      990.000             990.000
1’12’1998             90.000                           900.000                      990.000                  —
Jumlah              900.000                        10.000.000                  10.900.000

Dari keempat cara di atas, bila dipandang dari sudut perusahaan yang melakukan penjualan angsuran, maka cara yang terakhir yang menghasilkan bunga lebih besar dari cara yang lainnya. Biasanya dalam dunia usaha penjualan angsuran digunakan cara pertama. ketiga dan keempat.

  • Hubungan Penjualan Angsuran Dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
Dalam hubungannya dengan SAK, penjualaan angsuran dapat dikatakan berhubngan dengan:
  1. PSAK NO. 16 tentang Aktiva Tetap Dan Aktiva Lain-Lain
Hal ini dikarenakan, kebanyakan penjualan angsuran adalah aktiva tetap sebuah perusahaan, seperti : gedung, tanah, peralatan. Dalam penjualan aktiva tetap ini akan muncul piutang dan bunga.
  1. PSAK NO. 44 tentang Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estat
Hal ini dikarenakan, penjualan angsuran pada mulanya adalah penjualan real estat, ditambah lagi penjualan real estat sampai sekarang masih merupakan cicilan, jarang sekali yang membayar langsung karena begitu besar biaya yang harus dikeluarkan sehingga lebih baik di cicil.
  1. PSAK NO. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan
Hal ini dikarenakan, dalam perhitungan pajak penghasilan dari sebuah perusahaan, kadang kala terdapat selisih pajak dan juga pengaturan atas selisih pajak ini harus disesuaikan sehingga tidak menimbulkan suatu kerancuan.
  1. PSAK NO. 47 tentang Akuntansi Tanah
Hal ini dikarenakan, dalam prakteknya tanah adalah suatu aktiva yang banyak diperjual belikan dengan angsuran, karena mahalnya harga tanah terlebih lagi di kota besar.
  1. PSAK NO. 48 tentang Penurunan Nilai Aktiva
Hal ini dikarenakan, dlam penjualan angsuran bila si pembeli tidak mampu membayar maka akan
terdapat pemilikan kembali akan aktiva tersebut dan biasanya harganya cendenrung menurun dari
harga sewaktu menjual aktiva tersebut secara angsuran.

  • Variasi Soal
    1. PT Surken yang bergerak dalam bidang ekspor impor akan menjual aktiva tetap miliknya, yaitu 3 bidang tanah di Irian, Maluku dan di Sulawesi.
      1. Tanah di Irian berharga pokok Rp. 190.000.000,00 dan akan dibeli oleh PT Hadouken seharga Rp. 250.000.000,00. Disamping itu PT Surken membayar komisi dan beban penjualan sebesar 1 % dari harga jual. Rencananya penjualan akan menggunakan metode cicilan yang mangakui laba kotor pada saat penjualan, PT Hadouken akan mencicil pembayaran sebanyak 5 kali setengah tahunan dan PT Surken mengenakan bunga sebesar 12 % atas cicilan tersebut serta PT Hadouken telah membayar Rp. 50.000.000,00. Sebelumnya PT Surken juga telah membayar Rp. 10.000.000,00 untuk biaya pengurusan tanah yang di Irian tersebut. PT Hadouken membeli tanah tersebut tanggal 1 April 1999.
      2. Tanah di Maluku akan dibeli oleh PT Surkep, tanah di Maluku ini rencananya akan dicatat dengan metode laba kotor sejalan dengan penerimaan kas. Harga beli tanah di sana adalah Rp. 145.000.000,00 dan biaya untuk penggantian biaya surat tanah sebesar Rp. 5.000.000,00. PT Surkep membeli tanah tersebut pada tanggal 29 februari 1998 seharga Rp. 200.000.000,00 dengan cicilan sebanyak 5 kali setengah tahunan dan sudah memberikan uang muka sebesar Rp. 20.000.000,00. Bunga yang dikenakan sebesar 12 %, dan PT Surken membayar komisi dan beban penjualan sebesar 2 % dari harga jual.
      3. Tanah di Sulawesi akan dibeli oleh PT Gadifs. Tanah tersebut memiliki harga beli Rp. 300.000.000,00 (dengan surat-surat). PT Gadifs membeli tanah tersebut tanggal 1 maret 1998 seharga Rp. 400.000.000, dengan metode cicilan yang mengakui laba kotor pada saat penjualan. PT Gadifs juga membayar uang muka sebesar Rp. 100.000.000,00 dan sisanya diangsur 10 kali dan atas angsuran tersebut dikenakan bunga 12%. Untuk beban komisi penjualan PT Surken membayar Rp. 10.000.000,00. Malangnya, PT Gadifs salah dalam berinvenstasi sehingga tanggal 1 maret 2000 tidak mampu memenui kewajibannya. PT Surken terpaksa harus menarik kembali tanahnya, dan pada waktu itu harga tanah tersebut Rp. 250.000.000,00 dan dikembalikan 15% dari jumlah yang telah dibayar.
Pertanyaan :
Buatlah seluruh jurnal yang mencatat transaksi penjualan tersebut untuk 2 tahun !
Jawaban :
  1. Laba kotor diakui pada saat penjualan
1 April 1999
  • Mencatat penjualan tanah
Piutang usaha angsuran                                   Rp. 250.000.000,00
Tanah                                                                                      Rp. 200.000.000,00
Laba atas penjualan tanah                                                       Rp. 50.000.000,00

  • Mencatat penerimaan uang muka
Kas                                                                  Rp. 50.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 50.000.000,00

  • Membayar komisi dan beban penjualan (1% x Rp. 250.000.000,00)
Beban penjualan                                              Rp. 2.500.000,00
Kas                                                                                          Rp. 2.500.00,00

1 Oktober 1999
  • Mencatat pembayaran angsuran pertama dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 200.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 32.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                  Rp. 12.000.000,00

31 Desember 1999
  • Mencatat jurnal penyesuaian bunga (3/12 x 12% x Rp. 180.000.000,00)
Piutang Bunga                                                Rp. 5.400.000,00
Pendapatan Bunga                                                                  Rp. 5.400.000,00
  • Ayat Jurnal Penutup
Laba atas penjualan tanah                               Rp. 50.000.000,00
Pendapatan bunga                                           Rp. 17.400.000,00
Beban penjualan                                                                      Rp. 2.500.000,00
Ikhtisar Rugi/Laba                                                                  Rp. 64.900.00,00



1 Januari 2000
  • Mencatat ayat jurnal pembalik
Pendapatan bunga                                           Rp. 5.400.000,00
Piutang bunga                                                                                     Rp. 5.400.000,00

1 April 2000
  • Mencatat pembayaran angsuran kedua dan bunga (6/12 x 12% x   Rp. 180.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 30.800.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 10.800.000,00

1 Oktober 2000
  • Mencatat pembayaran angsuran ketiga dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 160.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 29.600.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 9.600.000,00

31 Desember 2000
  • Ayat jurnal penyesuaian bunga (3/12 x 12% x 140.000.000,00)
Piutang bunga                                                             Rp. 4.200.000,00
Pendapatan bunga                                                                  Rp. 4.200.000,00

           
  • Ayat jurnal penutup
Pendapatan bunga                                           Rp. 19.200.000,00
Ikhtisar Rugi/Laba                                                                  Rp. 19.200.000,00

1 Januari 2001
  • Ayat jurnal pembalik
Pendapatan bunga                                           Rp. 4.200.000,00
Piutang bunga                                                                                     Rp. 4.200.000,00

1 April 2001
  • Mencatat pembayarn angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 140.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 28.400.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 8.400.000,00

  1. Laba kotor diakui sejalan dengan penerimaan kas
29 Februari 2000
  • Mencatat penjualan tanah
Piutang usaha angsuran                                   Rp. 200.000.000,00
Tanah                                                                                      Rp. 150.000.000,00                 Laba kotor yang ditangguhkan                                               Rp. 50.000.000,00



  • Mencatat penerimaan uang muka
Kas                                                                  Rp. 20.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00

  • Membayar beban dan komisi penjualan (2% x Rp. 200.000.000,00)
Beban penjualan                                              Rp. 4.000.000,00
Kas                                                                                          Rp. 4.000.000,00

1 September 2000
  • Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12%x 180.000.00,00)
Kas                                                                  Rp. 30.800.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 10.800.000,00

31 Desember 2000
  • Ayat jurnal Penyesuaian (4/12 x 12% x Rp 160.000.000,00)
Piutang bunga                                                             Rp. 6.400.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 6.400.000,00
  • Realisasi Laba kotor
% LK = (50.000.000:200.000.000) x 100% = 25%
LKBD = 25 % x Rp. 50.000.000,00 = Rp. 12.500.000,00
Laba kotor yang ditangguhkan                       Rp.12.500.000,00
Laba kotor yang direalisasikan                                               Rp. 12.500.000,00
  • Ayat Jurnal Penutup
Laba kotor yang direalisasikan                       Rp. 12.500.000,00
Pendapatan bunga                                           Rp. 17.200.000,00
Beban penjualan                                                                      Rp. 4.000.000,00
Ikhtisar Rugi/Laba                                                                 Rp. 25.700.000,00
1 Januari 2001
  • Ayat Jurnal Pembalik
Pendapatan bunga                                           Rp. 6.400.000,00
Piutang bunga                                                                                     Rp. 6.400.000,00

29 Februari 2001
  • Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 160.000.00,00)
Kas                                                                  Rp. 29.600.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 9.600.000,00

1 September 2001
  • Penerimaan angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 140.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 28.400.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 8.400.000,00


31 Desember 2001
  • Ayat jurnal penyesuaian bunga (4/12 x 12% x Rp. 120.000.000,00)
Piutang bunga                                                 Rp. 4.800.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 4.800.000,00

  • Realisasi Laba kotor (25% x Rp. 50.000.000,00 – Rp.12.500.000,00 )
Laba kotor yang ditangguhkan                       Rp. 9.375.000,00
Laba kotor yang direalisasi                                                     Rp. 9.375.000,00

  • Ayat jurnal penutup
Pendapatan bunga                                          Rp. 16.400.000,00
Laba kotor yang direalisasi                             Rp. 9.375.000,00
Ikhtisar Rugi/Laba                                                                  Rp. 25.775.000,00

1 Januari 2002
  • Ayat Jurnal Pembalik
Piutang Bunga                                                Rp. 4.800.000,00
Pendapatan Bunga                                                                  Rp. 4.800.000,00
29 Februari 2002
  • Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 120.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 27.200.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 7.200.000,00
  1. Laba kotor diakui pada saat penjualan
1 Maret 1998
  • Mencatat penjualan tanah
Piutang usaha angsuran                                   Rp. 400.000.000,00
Tanah                                                                                      Rp. 300.000.000,00
Laba atas penjualan tanah                                                       Rp. 100.000.000,00
  • Mencatat penerimaan uang muka
Kas                                                                  Rp. 100.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 100.000.000,00
  • Mencatat beban dan komisi penjualan
Beban penjualan                                              Rp. 10.000.000,00
Kas                                                                                          Rp. 10.000.000,00


1 September 1998
  • Dibayar angsuran pertama dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 200.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 32.000.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 12.000.000,00
31 Desember 1998
  • Ayat jurnal penyesuaian (4/12 x 12%x Rp. 180.000.000,00)
Piutang bunga                                                             Rp. 7.200.000,00
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 7.200.000,00
           
  • Ayat jurnal penutup
Laba atas penjualan tanah                               Rp. 100.000.000,00
Pendapatan bunga                                           Rp. 19.200.000,00
Beban penjualan                                                                      Rp. 10.000.000,00
Ikhtisar Rugi/Laba                                                                  Rp. 118.200.000,00
1 Januari 1999
  • Ayat jurnal pembalik
Pendapatan bunga                                           Rp. 7.200.000,00
Piutang bunga                                                                                     Rp. 7.200.000,00

1 Maret 1999
  • Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12% x Rp. 180.000.000,00)
Kas                                                                  Rp. 30.800.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00
Pendapatan bunga                                                                  Rp. 10.800.000,00

1 September 1999
  • Dibayar angsuran dan bunga (6/12 x 12%x Rp. 160.000.000,00)
Kas                                                                  Rp.29.600.000,00
Piutang usaha angsuran                                                           Rp. 20.000.000,00                  Pendapatan bunga                                                                   Rp. 9.600.000,00

31 Desember 1999
  • Ayat jurnal penyesuaian bunga (4/12 x 12%x Rp. 140.000.000,00)
Piutang bunga                                                             Rp. 5.600.000
Pendapatan bunga                                                                   Rp. 5.600.000,00
  • Ayat jurnal penutup
Pendapatan bunga                                           Rp. 18.800.000,00
Ikhtisar Rugi/Laba                                                                  Rp. 18.800.000,00

1 Januari 2000
  • Ayat jurnal pembalik
Pendapatan bunga                                           Rp. 5.600.000,00
Piutang bunga                                                                         Rp. 5.600.000,00

Kemudian PT Gadifs tidak dapat memenuhi kewajibannya, sehingga
Jumlah piutang yang telah diterima                                                   Rp. 160.000.000,00
Jumlah yang dikemnbalikan    (15%)                                                  Rp.   24.000.000,00
Rp. 136.000.000,00
Harga pokok tanah      Rp 300.000.000,00
Nilai pasar                   Rp.250.000.000,00

Penurunan nilai tanah                                                                          Rp. 50.000.000,00

Total laba pemilikan kembali                                                              Rp. 86.000.000,00
Laba kotor yang telah diakui                                                              Rp. 100.000.000,00
Rugi karena pemilikan kembali                                                           Rp (14.000.000,00)

Jurnal pemilikan kembali tanah:
Tanah                                                                          Rp. 250.000.000,00
Rugi atas pemilikan kembali                                       Rp. 14.000.000,00
Kas                                                                                                      Rp. 24.000.000,00                                          Piutang usaha angsuran                                                                       Rp. 240.000.000,00


Contoh soal dan penyelesaian : Penjualan angsuran barang tak bergerak dengan metode laba kotor diakui secara periodik (pada saat penjualan dilakukan)

1 Sept 1990

Dijual mesin (aktiva tetap) kepada PT B dengan harga Rp. 500 juta yang nilai bukunya Rp. 400 juta

Piutang-PT B                                                                    500 juta
Mesin                                                                                                  400 juta
Keuntungan penjualan aktiva tetap                                                    100 juta

Diterima uang muka (d/p) Rp. 100 juta dan sisanya dengan wesel hipotik yang dapat diangsur selama 4 kali angsuran semesteran @ Rp. 100 juta ditambah bunga 12% per tahun atas saldo yang belum dibayar. Angsuran dilakukan tiap 1/3 dan 1/9.

Kas                                                                                    100 juta
Wesel Hipotik                                                                   400 juta
Piutang-PT B                                                                                      500 juta

Dibayar biaya penjualan sebesar Rp. 2 juta

Biaya penjualan                                                                 2 juta
Kas                                                                                                      2 juta

31 Desember 1990

Jurnal penyesuaian untuk bunga yang masih harus diterima selama 4 bulan yaitu sebesar 16 juta (4/12 * 12% * 400 juta)

Piutang Bunga                                                                  16 juta
Pendapatan bunga                                                                               16 juta

Jurnal penutup:

Keuntungan atas penjualan aktiva tetap                           100 juta
Pendapatan bunga                                                             16 juta
Biaya penjualan                                                                                      2 juta
Ikt. R/L                                                                                               114 juta

1 Januari 1991

Jurnal Pembalik:

Pendapatan bunga                                                             16 juta
Piutang bunga                                                                                     16 juta

1 Maret 1991

Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga

Kas                                                                                    124 juta
Wesel hipotik                                                                                      100 juta
Pendapatan bunga                                                                               24 juta

1 September 1991

Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga

Kas                                                                                    118 juta
Wesel hipotik                                                                                      100 juta
Pendapatan bunga                                                                               18 juta

31 Desember 1991

Jurnal penyesuaian untuk bunga yang masih harus diterima selama 4 bulan yaitu sebesar 8 juta (4/12 * 12% * 200 juta)

Piutang Bunga                                                                     8 juta
Pendapatan bunga                                                                               8 juta

Jurnal penutup:

Pendapatan bunga                                                             34 juta
Ikt. R/L                                                                                               34 juta

1 Januari 1992
Jurnal Pembalik:
Pendapatan bunga                                                                8 juta
Piutang bunga                                                                                     8 juta

1 Maret 1992
Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga
Kas                                                                                    112 juta
Wesel hipotik                                                                                      100 juta
Pendapatan bunga                                                                               12 juta

1 September 1992
Diterima angsuran pertama sebesar 100 juta ditambah bunga
Kas                                                                                    106 juta
Wesel hipotik                                                                                      100 juta
Pendapatan bunga                                                                                  6 juta

31 Desember 1992
Jurnal penutup:
Pendapatan bunga                                                             10 juta
Ikt. R/L                                                                                               10 juta

2.3 Pengertian Konsinyasi
Konsinyasi (consignment) menurut Hadori Yunus – Harnanto adalah suatu perjanjian dimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barangnya kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan memberikan komisi tertentu.
Pemilik yang memiliki barang atau yang menitipkan barang disebut pengamanat (consignor), sedang pihak yang dititipi barang disebut disebut komisioner (consignee). Bagi pengamanat barang yang dititipkan kepada pihak lain untuk dijualkan dengan harga dan persyaratan tertentu biasa disebut sebagai barang-barang konsinyasi (consignment out), sedangkan bagi pihak penerima barang-barang ini disebut dengan barang-barang komisi (consignment in).
Dalam transaksi konsinyasi penyerahan barang dari pengamanat kepada komisioner tidak diikuti dengan penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan. Meskipun diakui bahwa dalam transaksi konsinyasi itu telah terjadi perpindahan pengelolaan dan penyimpanan barang kepada komisioner, namun demikian hak milik atas barang yang bersangkutan tetap berada pada pengamanat (consignor). Hak milik akan berpindah dari pengamanat apabila komisioner telah berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga.
            Terdapat perbedaan prinsipal antara transaksi penjualan dengan transaksi konsinyasi. Dalam transaksi penjualan hak milik atas barang berpindah kepada pembeli  pada saat penyerahan barang. Di dalam transaksi konsinyasi penyerahan barang dari pengamat kepada komisioner tidak diikuti adanya hak milik atas barang yang bersangkutan.



2.4 Karakteristik dan Keuntungan Penjualan Konsinyasi
            Karakteristk penjualan konsinyasi yang sekaligus merupakan perbedaan perlakuan akuntansi dengan transaksi penjualan yaitu :
a)      Barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh pengamanat karena hak milik atas barang-barang konsinyasi masih berada ditangan pengamanat. Barang-barang konsinyasi tidak boleh diakui sebagai persediaan oleh pihak komisioner (consignee).
b)      Pengiriman barang-barang konsinyasi tidak mengakibatkan timbulnya pendapatan dan tidak boleh dipakai sebagai kriteria untuk mengakui timbulnya pendapatan, baik bagi pengamanat maupun bagi komisioner sampai barang dagangan dapat dijual kepada pihak ketiga.
c)      Pihak pengamanat (consignor) sebagai pemilik barang tetap bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi sejak saat pengiriman sampai dengan saat komisioner berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga. Kecuali ditentukan lain dalam perjanjian diantara kedua belah pihak.
d)     Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya itu. Oleh karena itu komisioner perlu menyelenggarakan administrasi yang baik dan tertib.   

Pada pelaksanaan penjualan konsinyasi sebaiknya kontrak perjanjian antara pengamanat dan komisioner harus dibuat terlebih dahulu. Isi perjanjian biasanya terdiri dari beban-beban yang dikeluarkan oleh komisioner yang ditanggung oleh pengamanat, kebijaksanaan harga jual dan syarat kredit, komisi bagi komisioner dan laporan pertanggungjawaban oleh komisoner kepada pengamanat (account sale) yang dilakukan secara berkala atas barang-barang yang sudah terjual dan pengiriman uang hasil penjualan tersebut.

2.5 Alasan-alasan bagi pengamat untuk mengadakan perjanjian konsinyasi
{  Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang dapat dijamin oleh seorang produsen, pabrikan,atau distributor.
{  Resiko-resiko tertentu dapat dihindari oleh pengamat.
{   Mungkin pengamat ingin mendapatkan penjualan khusus dalam perdagangan barang
      barangnya, terutama untuk ternak, hasil pertanian, dan lain-lain.
{  Harga eceran barang-barang yang bersangkutan tetap dapat dikontrol oleh pengamat, demikian pula terhadap jumlah barang-barang yang siap dipasarkan dan stock barang-barang tersebut.
2.6 Alasan-alasan komisioner menerima perjanjian konsinyasi, antara lain:
{  Komisioner dilindungi dari kemungkinan resiko gagal untuk memasarkan barang
     barang tersebut atau keharusan menjual dengan rugi.
{  Resiko rusaknya barang dan adanya fluktasi harga dapat dihindarkan.
{  Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi, sebab adanya barang-barang
     konsinyasi yang di titipkan oleh pengamat.

2.7 Hak-hak dan Kewajiban-kewajiban berhubungan dengan perjanjian konsinyasi
            Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian konsinyasi pada umumnya dinyatakan secara tertulis yang menekankan hubungan kerja sama antar kedua pihak. Selain ketentuan dalam perjanjian, ada juga ketentuan umum yang diatur oleh undang-undang (hukum) yang berlaku dalam dunia perdagangan, antara lain:
1.       Tentang hak-hak komisioner
a)      Komisioner berhak mendapatkan komisi dan penggantian biaya yang dikeluarkan untuk menjual barang titipan tersebut, sesuai dengan jumnlah yang diatur dalam perjanjian diantara dua pihak.
b)      Dalam batasan-batasan tertentu biasanya kepada kuosioner diberikan hak untuk memberikan jaminan terhadap kualitas barang yang dijualnya.
c)       Untuk menjamin pemasaran barang yang bersangkutan komisioner berhak memberikan syarat-syarat pembayaran kepada langganan seperti yang berlaku pada umumnya untuk barang-barang yang sejenis, mskipun pengamanat dapat mengadakan pembatasn-pembatasn yang harus dinyatakan dalam perjanjian.
2.      Tentang Kewajiban-kewajiban komisioner
a)      Melindungi keamanan dan keselamatan barang-barang yang diterima dari pihak pengamat.
b)      Mematuhi dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjual barang-barang milik pengamat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam perjanjian.
c)      Mengelola secara terpisah baik dari segi phisik maupun administratip terhadap barang-barang milik pengamat, sehingga identitas barang-barang tersebut tetap dapat diketahui setiap saat.
d)     Membuat laporan secara periodik tentang barang yang diterima, barang-barang yang berhasil dijual dan barang-barang yang masih dalam persediaan serta mengadakan penyelesaian keuangan seperti dinyatakan dalam perjanjian.  


2.8 Akuntansi untuk Penjualan Konsinyasi
v  Prosedur akuntansi penjualan konsinyasi untuk pengamanat
1.      Metode terpisah
Di dalam metode ini semua laba ataupun rugi yang diperoleh dari kegiatan konsinyasi akan disajikan secara terpisah dari rugi laba yang biasa. Untuk memisahkan tersebut maka pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan kegiatan konsinyasi juga harus dipisahkan . Alat yang digunakan untuk mengumpulkan pendapatan dan biaya tersebut adalah rekening “Barang Konsinyasi”. Rekening ini akan di debit dengan biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi dan dikredit dengan pendapatan yang berhubungan dengan barang konsinyasi. Jadi pendebitan dan pengkreditan terhadap rekening   “Barang Konsinyasi” adalah:
Pendebitan:
·         Harga pokok barang konsinyasi yang dikirim
·         Biaya pengiriman barang-barang konsinyasi
·         Biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi yang dibayar oleh komisioner akan tetapi ditanggung oleh pengamanat. Termasuk di dalam kelompok ini misalnya komisi, biaya perakitan dan sebagainya.
Pengkreditan
Pengkreditan terhadap rekening barang konsinyasi adalah hasil penjualan barang konsinyasi.
Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh pengamanat hanya mencakup 4 transaksi, yaitu:
1.      Pengiriman barang konsinyasi
2.      Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi
3.      Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner
4.      Menerima pembayaran dari komisioner.
Pencatatan terhadap transaksi tersebut adalah:
a.       Pengiriman barang konsinyasi
Transaksi ini akan dicatat:
Barang konsinyasi                                           xxx
Persediaan                                                       xxx
b.      Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi
Transaksi ini akan dicatat:
Barang konsinyasi                                          xxx
Kas                                                                  xxx
c.       Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner
Pada saat menerima laporan pertanggungjawaban tersebut pengamanat akan mengetahui 3 hal, yaitu:
ü  Penjualan barang konsinyasi
ü  Biaya yang berhubungan dengan konsinyasi
ü  Pembayaran yang akan diterima dari komisioner
Transaksi ini akan dicatat:
Piutang- komisioner                            xxx
Barang konsinyasi                              xxx
Barang konsinyasi                              xxx
d.      Menerima pembayaran dari komisioner
Transaksi ini akan dicatat:
Kas                                                                  xxx
Piutang- komisioner                                                    xxx

Contoh:
Pada awal tahun 1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut antara lain:
1.      PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ
2.      Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan
3.      Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
4.      Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
1.      PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00
2.      PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00
3.      Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
4.      Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai
5.      Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC
6.      Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu:
-          Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00                        = Rp. 50.000.000,00
-          Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
-          Biaya                         200.000,00 +                                    7.700.000,00
            Kas yang dikirim                                                               Rp. 42.300.000,00

Jurnal yang dibuat oleh PT ABC adalah:
Transaksi 1
Transaksi ini dicatat:
Barang konsinyasi                              Rp. 30.000.000,00
Persediaan                                           Rp. 30.000.000,00
Transaksi 2
Transaksi ini dicatat:
Barang konsinyasi                              Rp. 500.000,00
Kas                                                      Rp. 500.000,00
Transaksi 3
Transaksi ini  tidak dicatat oleh PT ABC
Transaksi 4
Transaksi ini  tidak dicatat oleh PT ABC
Transaksi 5
Transaksi ini dicatat:
Piutang-komisioner                             Rp. 42.300.000,00
Barang konsinyasi                              Rp. 7.200.000,00
Barang konsinyasi                              Rp. 50.000.000,00
Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Kas                                                      Rp. 42.300.000,00
Piutang komisioner                             Rp. 42.300.000,00

2.      Metode tidak terpisah
Di dalam metode laba atau rugi dari kegiatan konsinyasi tidak dipisahkan dengan laba (rugi) dari kegiatan yang reguler. Oleh karena itu, biaya dan pendapatan yang berhubungan dengan kegiatan konsinyasi dicampur dengan pendapatan dan biaya yang reguler.
Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh pengamanat di dalam metode ini hanya mencakup 3 transaksi, yaitu:
a.       Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi
b.      Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner
c.       Menerima pembayaran dari komisioner
Pencatatan terhadap transaksi tersebut adalah:
a.       Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi
Transaksi ini akan dicatat:
Biaya  transport                                               xxx
Kas                                                                  xxx
b.      Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner
Pada saat menerima laporan pertanggungjawaban tersebut pengamanat akan mengetahui 3 hal, yaitu:
ü  Penjualan barang konsinyasi
ü  Biaya yang berhubungan dengan konsinyasi
ü  Pembayaran yang akan diterima dari komisioner
Transaksi ini akan dicatat:
Piutang- komisioner                            xxx
Biaya                                                   xxx
Penjualan                                            xxx
Apabila perusahaan menggunakan sistem perpetual pengamanat harus mencatat juga harga pokok penjualan.
c.       Menerima pembayaran dari komisioner
Transaksi ini akan dicatat:
Kas                                                                  xxx
Piutang- komisioner                                        xxx
Contoh:
Pada awal tahun 1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut antara lain:
1.      PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ
2.      Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan
3.      Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
4.      Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
1.      PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00
2.      PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00
3.      Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
4.      Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai
5.      Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC
6.      Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu:
-          Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00                        = Rp. 50.000.000,00
-          Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
-          Biaya                         200.000,00 +                                    7.700.000,00
            Kas yang dikirim                                                                     Rp. 42.300.000,00
Jurnal yang dibuat oleh PT ABC adalah:
Transaksi 1
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 2
Transaksi ini dicatat
Biaya transport                                    Rp. 500.000,00
Kas                                                      Rp. 500.000,00
Transaksi 2
Transaksi ini dicatat:
Barang konsinyasi                              Rp. 500.000,00
Kas                                                      Rp. 500.000,00
Transaksi 3
Transaksi ini  tidak dicatat oleh PT ABC
Transaksi 4
Transaksi ini  tidak dicatat oleh PT ABC
Transaksi 5
Transaksi ini dicatat:
Piutang-komisioner                             Rp. 42.300.000,00
Biaya                                                   Rp.   7.700.000,00
Barang konsinyasi                              Rp. 50.000.000,00
            Harga pokok penjualan                       Rp. 30.000.000,00
Persediaan                                           Rp. 30.000.000,00

Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Kas                                                      Rp. 42.300.000,00
Piutang komisioner                             Rp. 42.300.000,00

v  Prosedur akuntansi penjualan konsinyasi untuk komisioner
1.      Metode terpisah
Di dalam metode ini semua laba ataupun rugi yang diperoleh dari kegiatan konsinyasi akan disajikan secara terpisah dari rugi laba yang biasa. Untuk memisahkan tersebut maka pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan kegiatan komisioner juga harus dipisahkan . Alat yang digunakan untuk mengumpulkan pendapatan dan biaya tersebut adalah rekening “Barang Komisi”. Rekening ini akan didebit dengan biaya yang berhubungan dengan barang komisi dan dikredit dengan pendapatan yang berhubungan dengan barang komisi. Jadi pendebitan dan pengkreditan terhadap rekening   “Barang Komisi” adalah:
Pendebitan
Pendebitan terhadap rekening ini terdiri atas:
·         Biaya perakitan
·         Jumlah yang harus dibayarkan kepada pengamanat
Pengkreditan
Pengkreditan terhadap rekening barang komisi adalah hasil penjualan barang komisi.
Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh komisioner hanya mencakup 4 transaksi, yaitu:
1.      Membayar  biaya angkut / perakitan
2.      Menjual barang komisi
3.      Mengirim laporan pertanggungjawaban kepada pengamanat
4.      Mengirim pembayaran kepada pengamanat komisioner
Pencatatan terhadap transaksi tersebut adalah:
1.      Membayar  biaya angkut / perakitan
Transaksi ini akan dicatat:
Barang komisi                         xxx
Kas                                          xxx

2.      Menjual barang komisi
Transaksi ini akan dicatat:
Kas                                          xxx
Barang komisi                         xxx
3.      Mengirim laporan pertanggungjawaban kepada pengamanat
Transaksi ini akan dicatat:
Barang komisi                         xxx
Utang pengamanat                  xxx
4.      Mengirim pembayaran kepada pengamanat komisioner
Transaksi ini akan dicatat:
Utang pengamanat                  xxx
Kas                                          xxx
Saldo rekening “barang komisi” akan menunjukkan laba atau rugi dari kegiatan konsinyasi. Pada akhir periode saldo tersebut ditutup ke rekening “ikhtisar laba rugi”
Contoh:
Pada awal tahun 1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut antara lain:
1.      PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ
2.      Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan
3.      Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
4.      Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
1.      PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00
2.      PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00
3.      Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
4.      Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai
5.      Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC
6.      Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu:

-          Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00                        = Rp. 50.000.000,00
-          Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
-          Biaya                         200.000,00 +                                    7.700.000,00
            Kas yang dikirim                                                                     Rp. 42.300.000,00
Jurnal yang dibuat oleh Toko XYZ adalah:
Transaksi 1
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 2
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 3
Transaksi ini dicatat
Barang komisi                                     Rp. 200.000,00
Kas                                                      Rp. 200.000,00
Transaksi 4
Transaksi ini dicatat:
Kas                                                      Rp. 50.000.000,00
Barang komisi                                     Rp. 50.000.000,00
Transaksi 5
Transaksi ini dicatat:
Barang komisi                                     Rp. 42.300.000,00
Utang pengamanat                              Rp. 42.300.000,00
Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Utang pengamanat                              Rp. 42.300.000,00
Kas                                                      Rp. 42.300.000,00


2.      Metode tidak terpisah
Di dalam metode ini laba atau rugi dari kegiatan komisioner tidak dipisahkan dengan laba (rugi) dari kegiatan yang reguler. Oleh karena itu, biaya dan pendapatan yang berhubungan dengan kegiatan komisioner dicatat seperti halnya pendapatan dan biaya yang reguler.
Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh komisioner di dalam metode ini hanya mencakup 3 transaksi, yaitu:
1.      Membayar  biaya angkut / perakitan
2.      Menjual barang komisi
3.      Mengirim pembayaran kepada pengamanat komisioner

Pencatatan terhadap transaksi tersebut adalah:
1.      Membayar  biaya angkut / perakitan
Transaksi ini akan dicatat:
Utang pengamanat                              xxx
Kas                                                      xxx
2.      Menjual barang komisi
Transaksi ini akan dicatat:
Kas                                                      xxx
            Penjualan                                             xxx
3.      Mengirim pembayaran kepada pengamanat
Transaksi ini akan dicatat:
Utang pengamanat                              xxx
            Kas                                                      xxx
Contoh:
Pada awal tahun 1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut antara lain:
1.      PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ
2.      Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan
3.      Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
4.      Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
1.      PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00
2.      PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00
3.      Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
4.      Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai
5.      Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC
6.      Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu:
-          Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00                        = Rp. 50.000.000,00
-          Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
-          Biaya                         200.000,00 +                                    7.700.000,00
            Kas yang dikirim                                                                     Rp. 42.300.000,00
Jurnal yang dibuat oleh Toko XYZ adalah:
Transaksi 1
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 2
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 3
Transaksi ini dicatat
Utang pengamanat                              Rp. 200.000,00
Kas                                                      Rp. 200.000,00
Transaksi 4
Transaksi ini dicatat:
Kas                                                      Rp. 50.000.000,00
penjualan                                             Rp. 50.000.000,00
dan
            Harga pokok penjualan                       Rp. 42.500.000,00
                        Utang pengamanat                              Rp. 42.500.000,00
Transaksi 5
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Utang pengamanat                              Rp. 42.300.000,00
Kas                                                      Rp. 42.300.000,00





BAB III
PENUTUP
3.1     Kesimpulan
          Mengenai analisis terhadap prosedur penjualan konsinyasi pada Post Clothing Co. maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Pelaksanaan prosedur penjualan konsinyasi yang dilakukan oleh Post Clothing Co., telah dilaksanakan dengan baik, yang sesuai dengan kebijakan akuntansi yang disepakati oleh kedua belah pihak antara pihak consignor (Post Clothing Co.) dan pihak consignee (Amoole Industries), akan tetapi kebijakan tersebut masih belum didukung oleh dokumen-dokumen yang ada, dikarenakan masih menggunakan prosedur diluar akuntansi.
2.      Pencatatan jurnal penjualan yang dilakukan baik dari pihak consignor (Post Clothing Co.) dan pihak consignee (Amoole Industries) menggunakan proses pencatatan terpisah dimana laba atau rugi dari penjualan konsinyasi disajikan secara terpisah. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pada akhir periode dapat diketahui berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan konsinyasi dan berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan lainnya, akan tetapi masih ada kesalahan-kesalahan kecil yang disebabkan oleh human error antara lain : keterlambatan dalam pengiriman barang order ke pihak consignee, keterlambatan pembayaran penjualan konsinyasi kepada pihak consignor, sehingga dapat menghambat dalam melakukan proses pencatatan laporan penjualan.
3.      Kendala-kendala penjualan konsinyasi yang terjadi pada Post Clothing Co. tergolong sedikit dan masalah-masalah tersebut ssedikitnya telah mengganggu proses penjualan konsinyasi. Akibatnya kegiatan pejualan konsinyasi yang dimulai dari pengiriman barang produksi sampai dengan penyerahan laporan penjualan konsinyasi sering terhambat.

3.2     Saran
          Dengan kesimpulan sebelumnya dan keterbatasan ilmu pengetahuan dan pengalaman penulis, mudah-mudahan saran dari penulis dapat bermanafat bagi semua pihak, adapun saran-saran yang penulis paparkan sebagai berikut :
1.      Diperlukannya dokumen pendukung untuk memperlancar setiap transaksi penjualan konsinyasi, agar tidak terjadi kesalahan dan untuk mempermudah dalam penyusunan laporan penjualan.
2.      Pihak Konsinyi harus mengirimkan laporan penjualan konsinyasi yang disrahkan ke pihak konsinyor dengan  tepat waktu, diperlukannya ketelitian, dan Pihak konsinyi dan konsinyor harus membuat laporan penjualan secara lengkap yang sesuai dengan standar akuntansi, sebagai dasar pengendalian internal –control.

3.      Untuk menghadapi kendala-kendala tersebut, baik pihak konsinyor maupun pihak konsinyi harus melakukan kerja sama perbaikan di masing-masing pihak, seperti melakukan pengawasan lebih di setiap kegiatan penjualan konsinyasi guna mengatasi hambatan dan gangguan yang terjadi selama proses penjualan konsinyasi yang dimulai dari pengiriman barang oleh konsinyor sampai dengan penyerahan laporan penjualan konsinyasi oleh pihak konsinyi.